Di usia 85 tahun, Mbah Painten atau yang akrab disapa Mbah Jais masih menjalani hari-harinya dengan penuh semangat. Ia tinggal bersama cucu dan salah satu anaknya yang memiliki kondisi khusus. Di tengah usia senjanya, Mbah Painten tetap berusaha produktif dengan menanam sayuran di sekitar rumah.

Sawi dan seledri menjadi tanaman yang ia rawat sendiri, mulai dari menanam, merawat, hingga memanennya. Ia juga memelihara beberapa ekor mentok. Ada rasa bahagia dan puas bagi Mbah Painten setiap kali melihat tanaman yang dirawatnya tumbuh subur.
Pada 9 September lalu, kerja kerasnya kembali membuahkan hasil. Mbah Painten memanen sekitar 50 ikat sawi dan seledri yang kemudian dijual dengan harga Rp7.000 per ikat. Hasil penjualan tersebut menjadi tambahan untuk memenuhi kebutuhan belanja dapur sehari-hari.


Meski pernah kehilangan mentok peliharaannya karena dicuri, Mbah Painten tetap menjalani hari dengan sabar dan penuh rasa syukur. Doa pun tak pernah putus ia panjatkan. Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan, kekuatan, dan keberkahan untuk Mbah Painten. Aamiin.