September 10, 2026

Bencana, Uncategorized

kajian bersama lady ojol batch 4 hadirkan kepedulian sesama untuk gempa nTT

LAZ DPU Kaltim menggelar kajian bersama Lady Ojol di Aula LAZ DPU Kaltim (9/9/2026). Kegiatan ini menjadi ruang bagi para lady ojol untuk sejenak berhenti dari kesibukan di jalan, berkumpul, belajar, dan saling menguatkan. Pertemuan tersebut juga menjadi momen penutupan rangkaian Batch 4 yang telah diwarnai kebersamaan dan silaturahmi. Di tengah kegiatan, Lady Ojol menyerahkan donasi kemanusiaan untuk masyarakat terdampak gempa di NTT kepada LAZ DPU Kaltim untuk disalurkan kepada mereka yang membutuhkan. Kepedulian juga diwujudkan melalui pembagian masker kepada para lady ojol, sebagai bentuk perhatian terhadap kesehatan mereka yang sehari-hari beraktivitas di jalan, terlebih di tengah kondisi udara Samarinda yang kurang baik. Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan pembagian bingkisan cinta kepada para peserta. Meski menjadi pertemuan terakhir dalam Batch 4, kegiatan ini meninggalkan rasa syukur atas kebersamaan yang telah terjalin. Bagi LAZ DPU Kaltim, pertemuan tersebut bukan sekedar penutup sebuah rangkaian, tetapi pengingat bahwa ilmu, kepedulian, dan silaturahmi dapat terus melahirkan kebermanfaatan. Para bunda ojol pun pulang membawa bukan hanya bingkisan cinta dan masker, tetapi juga semangat bahwa dalam menjalani perjuangan sehari-hari, mereka tidak berjalan sendirian.

Pojok Ekonomi, Uncategorized

[kukar] Produktif di Usia Senja, Mbah Painten Tetap Berkebun

Di usia 85 tahun, Mbah Painten atau yang akrab disapa Mbah Jais masih menjalani hari-harinya dengan penuh semangat. Ia tinggal bersama cucu dan salah satu anaknya yang memiliki kondisi khusus. Di tengah usia senjanya, Mbah Painten tetap berusaha produktif dengan menanam sayuran di sekitar rumah. Sawi dan seledri menjadi tanaman yang ia rawat sendiri, mulai dari menanam, merawat, hingga memanennya. Ia juga memelihara beberapa ekor mentok. Ada rasa bahagia dan puas bagi Mbah Painten setiap kali melihat tanaman yang dirawatnya tumbuh subur. Pada 9 September lalu, kerja kerasnya kembali membuahkan hasil. Mbah Painten memanen sekitar 50 ikat sawi dan seledri yang kemudian dijual dengan harga Rp7.000 per ikat. Hasil penjualan tersebut menjadi tambahan untuk memenuhi kebutuhan belanja dapur sehari-hari. Meski pernah kehilangan mentok peliharaannya karena dicuri, Mbah Painten tetap menjalani hari dengan sabar dan penuh rasa syukur. Doa pun tak pernah putus ia panjatkan. Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan, kekuatan, dan keberkahan untuk Mbah Painten. Aamiin.

Scroll to Top